Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Alamat Paranormal Surakarta

Apabila kisanak sedang mencari Alamat Orang Pintar,Paranormal,Dukun Pelet silahkan untuk berkonsultasi langsung kepada kami.

Di ketahui banyak juga paranormal yang ada di surakarta,dimana paranormal yang ada di kota surakarta ini juga melayani berbagai macam masalah problematika

Seperti pelet,pengasihan,pasang susuk,kekayaan,pesugihan,penglarisan,pengobatan,asmak,gurah,dll

Paranormal atau dukun yang ada di jawa tengah ini pun sama hal nya dengan Kang Ipang yang juga melayani dan insha Allah membantu keluhan-keluhan seperti itu

Silahkan kontak kami di nomor hp 08577-4537-270

Baik itu telepon langsung,sms maupun via Whatsapp

ASAL MUASAL SURAKARTA/SOLO

Asal nama Solo yang berasal dari nama sebuah desa Sala, di masa kepemimpinan Kasunanan Surakarta

Desa Sala kala itu di pimpin oleh Ki Ageng Sala,yang menjabat sebagai lurah desa tersebut
Menurut ahli sejarah, julukan Ki Ageng Sala di ambil dari nama desa Sala yang beliau pimpin,sedangkan sebutan Desa Sala sendiri di ketahui bahwasanya di wilayah tersebut banyak di tumbuhi pohon Sala. Daerah ini memang kaya akan sumber daya alam dan strategis

Nama Ki Gede atau Ki Ageng sendiri di gunakan sebagai apreasiasi bentuk penghormatan kepada beliau sebagai tokoh yang di amat segani di mata masyarakat Desa Sala. Beiringan dengan masuknya ajaran agama Islam di desa ini beliau di kenal dengan gelar Kyai Sala.

Sejarah di belinya Keraton Surakarta

Geger Pecinan adalah sebuah tragedi yang kelam dari Keraton Surakarta,yang terjadi pada tahun 1740 peristiwa pemberontakan para etnis Cina ( Thionghoa ) terhadap Keraton yang pada masa itu di pimpin oleh Sri Sultan Paku Buwono II.

Saking dahsyatnya serangan tersebut pihak Belanda yang di ketahui sangat erat dengan pihak kerajaan pun tidak sanggup untuk menanganinya, akibat dari kejadian itu para bangsawan Keraton mengungsi ke daerah Ponorogo,dan seluruh isi kerajaan luluh lantak.

Pada tahun 1745 wilayah desa Sala di beli oleh Kasunanan Surakarta untuk membangun Keraton Surakarta di kawasan tersebut, yang sampai saat ini kemudian berkembang menjadi Kota Solo.

Paranormal berasal dari bahasa Yunani. "Para" artinya "di luar" atau "melampaui", dan "normal".

Yang berarti sesuatu di luar normal atau melampaui hal-hal normal. Secara definitif, paranormal adalah istilah yang digunakan untuk segala jenis fenomena psikis, pengalaman atau kejadian yang terlihat memiliki hubungan dengan jiwa (psike) atau pikiran (mind), dan yang tidak dapat diterangkan dengan prinsip-prinsip fisika.

Paranormal Surakarta

Orang-orang yang berkecimpung dalam hal paranormal ada beberapa hal. Untuk orang yang mempunyai kemampuan paranormal di antaranya ada medium atau perantara, paragnost (untuk gejala parapsikik), dan parergast (untuk gejala parafisik).

Dukun atau "orang pintar" adalah sebuah istilah yang secara umum dipahami dalam pengertian orang yang memiliki kelebihan dalam hal kemampuan supranatural yang menyebabkannya dapat memahami hal tidak kasatmata serta mampu berkomunikasi dengan arwah dan alam gaib,yang dipergunakan untuk membantu menyelesaikan masalah di masyarakat,seperti penyakit,gangguan sihir,kehilangan barang,kesialan,dan lain-lain

Istilah dukun biasanya digunakan di daerah pedesaan, sedangkan “orang pintar” atau paranormal, untuk menyatakan hal yang sama, digunakan lebih umum di antara populasi perkotaan. Penerimaan sosial terhadap istilah “orang pintar” pun biasanya lebih positif dibandingkan penggunaan istilah dukun

Sebab, meskipun memiliki persamaan karakteristik dengan dukun dalam hal bantuan yang diberikan, merujuk pada penggunaan istilah “orang pintar” biasanya tidak meminta imbalan atas jasa yang diberikan, dan tidak seperti tipikal dukun dalam penggunaannya secara istilah, keberadaan “orang pintar” di dalam masyarakat, tidak berbeda dengan anggota komunitas lainnya. Selain menarik bayaran untuk keuntungan pribadi serta kurang berinteraksi dan berbaur dengan komunitas masyarakat, konotasi negatif yang muncul apabila istilah dukun yang digunakan, yaitu cenderung bersifat oportunistik dan menjalani praktik-praktik tidak bermoral, dengan dalih sebagai bagian dari“treatment”.
Dukun dalam pengertiannya yang asli dan tidak dibedakan dari istilah “orang pintar”,mempunyai peranan signifikan dalam masyarakat.

Adanya pengobatan medis modern dan asuransi kesehatan, terutama di daerah pelosok, tidak dapat menyingkirkan eksistensi pengobatan alternatif melalui dukun. Penyembuhan penyakit secara non-medis tersebut masih dipraktikkan dan masih menjadi pilihan utama masyarakat karena lebih murah dan lebih mudah.
Dukun yang membantu menyembuhkan penyakit sangat dibutuhkan dan dihormati di masyarakat, sehingga mereka memegang peranan sosial yang cukup penting.
Para pasien yang datang untuk berobat ke sana tidak hanya terbatas dari dalam Kediri saja, tetapi juga dari luar Kediri, hingga luar provinsi, bahkan luar pulau Jawa.

Di samping peran signifikannya, keberadaan dukun sering kali menjadi kontroversi.Berdasarkan hasil penelitian tentang fenomena dukun yang dilakukan di Madura, dapat diketahui bahwa melalui dukun adalah salah satu strategi yang digunakan untuk mendapatkan kedudukan sosial, ekonomi, dan politik di masyarakat.

Penggunaan kekuatan yang berasal dari sumber gaib sebagai cara terpenting maupun sebagai cara alternatif untuk mencapai keinginan dan tujuan pribadi secara seketika, yang mana agama tidak menjanjikan keinstanan tersebut, telah ada di Madura sejak bertahun-tahun lalu.

Hal-hal pribadi yang diinginkan melalui perantara kekuatan gaib itu meliputi keinginan meningkatkan kedudukan sosial, mencapai kuota dan target bisnis, kemajuan karier, kesuksesan pendidikan, kesehatan, hingga asmara.

Beberapa orang Madura mengidentifikasikan diri sebagai Muslim dan mengamalkan ajaran serta kepercayaan agama, namun pada saat yang sama melibatkan diri dengan aktivitas yang berhubungan dengan alam gaib yang tidak diperbolehkan/dibenarkan dalam agama dan kepercayaan tersebut.

Sebagai gantinya digunakan kata yang lebih halus atau yang lebih mengindikasikan orientasi keagamaan seperti Ki atau Aki, Abah, Haji, Kyai, atau Ustadz, agar secara konsensus sosial tidak berbahaya, sehingga dapat mengganggu aktivitas atau kebutuhan mereka.

Kemajuan peradaban yang salah satunya diukur dengan keikutsertaan sebuah bangsa pada modernisasi yang berdasarkan rasionalitas, menyebabkan cara hidup tradisional yang dipandang sebagai sebuah kemandegan, harus ditinggalkan.

Termasuk di dalam cara hidup tradisional adalah praktik dukun dalam membantu proses melahirkan. Tingginya angka kematian bayi dan ibu melahirkan di Indonesia memberikan kesadaran untuk lebih meningkatkan upaya kesehatan ibu, antara lain dengan cara menempatkan tenaga bidan di setiap desa, yang sedikit demi sedikit mulai menggeser peran dukun.